Kusen Pintu uPVC: Investasi atau Sekadar Gaya?

Kusen Pintu uPVC: Investasi atau Sekadar Gaya?
Photo by Bailey Alexander / Unsplash

Membangun atau merenovasi rumah itu proses yang melelahkan. Seringkali kita terjebak di detail-detail kecil yang ternyata dampaknya besar, salah satunya soal pemilihan kusen. Dulu, pilihannya sederhana: kalau mau mewah pakai kayu jati, kalau mau hemat pakai aluminium. Tapi belakangan, nama kusen pintu uPVC makin sering terdengar di kalangan kontraktor maupun pemilik rumah. Pertanyaannya, apakah material ini benar-benar bagus, atau cuma tren sesaat?

Mari kita bicara realistis soal kayu. Kita semua suka estetika kayu; hangat dan natural. Tapi mendapatkan kayu solid kualitas super (seperti jati tua) di zaman sekarang harganya sudah tidak masuk akal. Kalaupun memaksakan beli kayu kelas dua, risikonya tinggi. Mulai dari rayap yang diam-diam menggerogoti dari dalam, sampai pintu yang tiba-tiba macet susah dibuka karena memuai saat musim hujan. Di sinilah uPVC masuk sebagai solusi yang masuk akal, bukan sekadar alternatif.

Secara teknis, uPVC adalah plastik yang diperkeras dan diperkuat. Material ini mati rasa terhadap cuaca. Mau Medan sedang panas terik atau hujan badai berminggu-minggu, bentuknya akan tetap presisi. Tidak ada lagi cerita pintu seret atau jendela yang bergetar kena angin. Bagi kita yang tinggal di iklim tropis dengan kelembapan tinggi, sifatnya yang anti-air dan anti-rayap ini adalah poin paling krusial. Rasanya melegakan mengetahui bahwa kusen di kamar mandi tidak akan lapuk meski terkena cipratan air setiap hari.

Ada satu hal yang sering luput dari brosur penjualan, yaitu soal "rasa" dan suara. Kalau Anda pernah menutup pintu aluminium yang murah, bunyinya seringkali "cempreng" dan berisik. Kusen pintu uPVC beda. Karena profilnya tebal dan biasanya memiliki rongga udara di dalamnya, ia jauh lebih kedap. Saat pintu ditutup, suaranya lebih solid dan berat, mirip kayu. Kemampuan meredam suara ini sangat membantu jika rumah Anda berada di pinggir jalan yang bising. Selain itu, rongga udara tadi juga menahan hawa dingin AC agar tidak bocor keluar, yang ujung-ujungnya bikin tagihan listrik sedikit lebih ramah.

Lalu, bagaimana soal harga? Harus diakui, uPVC biasanya lebih mahal di awal ketimbang aluminium standar atau kayu kampungan. Tapi coba ubah cara pandangnya ke jangka panjang. Kusen uPVC itu minim perawatan. Anda tidak perlu keluar uang untuk beli cat ulang, pelitur, atau pusing panggil tukang untuk serut pintu yang macet tiap tahun. Cukup dilap kain basah kalau kotor, selesai.

Jadi, jika Anda mencari material yang bisa dipasang lalu dilupakan (dalam artian positif), uPVC adalah kandidat terkuat. Memang tidak seklasik kayu asli, tapi ketenangan pikiran karena bebas rayap dan perawatan ribet adalah kemewahan tersendiri bagi pemilik rumah modern.